JAKARTA – Teknologi GIS (Geographic Information System) sudah digunakan oleh banyak tim pengendali dan responden bencana di seluruh dunia, dan berperan dalam mitigasi bencana skala besar seperti kemungkinan letusan Gunung Agung, hilangnya pesawat MH370 dan serangan teroris di Las Vegas.

Dr A. Istamar, CEO Esri Indonesia, mengatakan teknologi ini juga menghadirkan sistem pendukung pengambil keputusan canggih yang membantu responden untuk melakukan penilaian terhadap tingkat kerusakaan secara cepat, mengenali wilayah-wilayah berbahaya, mengindentifikasi populasi yang terancam bahaya, dan mengamankan infrastruktur penting dalam operasi SAR. “Teknologi GIS memberikan kepada pihak berwenang informasi waktu nyata dan andal di saat ketika setiap detik begitu berarti.” Jelasnya.

Indonesia sudah secara efektif memanfaatkan teknologi GIS di beragam aspek perencanaan dan tanggap bencana dan diskusi di acara Talkshow Tanggap Bencana ini menunjukkan teknologi ini akan terus memainkan peranan penting dalam memastikan strategi tanggap bencana yang dimiliki negara kita adalah nomor satu.

Hal ini diutarakan oleh sejumlah ahli manajemen bencana berkumpul di Graha BNPB, Jakarta (19/4) untuk mendiskusikan bagaimana teknologi Geographic Information System (GIS) dapat digunakan untuk menjaga ketahanan Indonesia dari bencana gempa bumi, tsunami, tanah longsor, gunung meletus, banjir dan kekeringan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Ikatan Geografi Alumni Universitas Gadjah Mada (IGEGAMA), bersama dengan Esri Indonesia, menjadi ujung tombak dalam penyelenggaraan Talkshow Tanggap Bencana yang diisi dengan forum diskusi yang dihadiri oleh sejumlah lembaga-lembaga pemerintah dan LSM untuk menyambut peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana setiap tanggal 26 April.

Dr. Raditya Jati, S.Si, M.Si selaku Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB mengatakan teknologi geospasial yang sudah digunakan secara luas oleh pemerintah adalah untuk mendukung kegiatan tanggap darurat bencana yang memegang peranan penting dalam memastikan negara kita siap memitigasi risiko-risiko potensial yang menjadi bencana.  “Sangatlah penting bagi kita untuk memiliki pemahaman awal mengenai bencana dan pengelolaan darurat. Hal ini untuk memastikan kita mengambil langkah yang tepat untuk merespon dan memulihkan keadaan,” jelas Raditya.  Teknologi GIS dapat melatih para responden untuk segera mengunggah dan berbagi informasi dengan semua pusat komando yang tersebar di berbagai wilayah dan kota. “Hal ini memudahkan semua pihak dapat mengambil keputusan mengenai langkah terbaik saat merespon situasi darurat.” Tambahnya.

Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Mari kita persiapkan mulai dari diri kita, keluarga dan komunitas (lingkungan) untuk siap untuk selamat. Sehingga edukasi bencana tidak lagi hanya sekedar menambah pengetahuan seseorang tetapi juga merubah sikap dan melekat menjadi budaya sadar bencana di tengah masyarakat.

 

 

Berita Lainnya :

Sistem Peringatan Dini Longsor Berbasis Masyarakat... SIDNEY, AUSTRALIA – Organisasi Standar Internasional atau International Organization for Standardization (ISO) secara resmi menetapkan sistem peringat...
BPBD Wajib Tingkatkan Kapasitas untuk Penanggulang... YOGYAKARTA – Bencana alam mengalami kecenderungan naik dalam kurun waktu 2008 – 2016. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan an...
Penandatanganan Perjanjian Hibah Daerah Rehabilita... JAKARTA - Percepat pemulihan pasca bencana, BNPB menyelenggarakan penandatanganan perjanjian hibah daerah rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana ...
Tangguh Award 2017 PURWOREJO – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan malam penganugerahan Tangguh Award 2017 yang berlangsung di Kota Purworejo, ...
Teknologis GIS untuk Mitigasi Bencana di Indonesia