JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajak semua pihak untuk meluangkan 1 hari untuk melakukan latihan kesiapsiagaan bencana yang dikemas dalam Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Bernadus Wisnu Widjaja pada talkshow Siap untuk Selamat pada Selasa (11/4) di Graha BNPB, Jakarta. Wisnu menjelaskan bahwa semua pihak itu terdiri dari pribadi, keluarga, komunitas, kementerian/lembaga, berbagai organisasi di Indonesia.

“Harapan dari latihan ini untuk memberikan pengetahuan kepada kita mengenai di mana posisi kita serta risiko apa yang ada di sekitar kita, lalu apa solusinya dalam merespon risiko tersebut. Kalau itu (bencana) belum terjadi, mari kita berlatih,” kata Wisnu pada talkshow yang dipandu presenter kondang, Farhan.

Inisiatif untuk melakukan latihan secara bersama ini merefleksikan apa yang pernah terjadi pada saat gempa Kobe pada 1995 atau dikenal sebagai Great Hansin Earthquake. Hasil kajian pascabencana Kobe ini menunjukkan bahwa korban yang dapat selamat pada durasi golden time karena kesiapsiagaan diri sebesar 35%, dukungan anggota keluarga 31,90%, dukungan teman atau tetangga 28,10%, dukungan orang sekitar 2,60%, dukungan tim SAR 1,70%, dan lain-lain sebesar 0,90%.

Wisnu menambahkan bahwa sasaran kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat serta pemangku kepentingan dalam menghadapi risiko bencana. Di samping itu, sasaran ini berlandaskan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.

“Meningkatkan partisipasi dan membangun budaya gotong royong, kerelawanan serta kedermawanan para pemangku kepentingan baik di tingkat pusat dan daerah.”

Sementara itu, Jurnalis Kompas yang aktif dalam jurnalisme bencana Ahmad Arif mengatakan bahwa modalitas yang dimiliki masyarakat perlu dikembangkan dalam mendukung kesiapsiagaan menghadapi bencana. Salah satu modalitas tadi adalah kearifan lokal.

Arif mencontohkan bahwa masyarakat memiliki kearifan lokal seperti mereka di Simelue, Maluku, Jawa dan Bali. Namun Arif menekankan perlunya reproduksi apa yang pernah hidup di masyakarat.

Berbeda dengan konteks saat ini, meskipun di Jepang juga memiliki kearifan lokal terkait bencana, setiap individu memperoleh pengetahuan bencana sejak dini. Bahkan mereka meluangkan 1 hari pada Bulan September untuk melakukan geladi.

Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) ini memiliki pesan bahwa masyarakat akan selamat jika mendapatkan informasi yang tepat dan akurat serta mampu mengubah perilaku menuju budaya aman. Informasi lebih lanjut mengenai HKBN dapat diakses pada http://siaga.bnpb.go.id.

Talkshow ini juga menghadirkan Gufroni Sakila dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas dan Gede Robi Supriyanto dari Navicula Band. Akhir acara ditutup dengam kunjungan ke ruang diorama edukasi bencana yang berada di lantai 11 dan 12 Graha BNPB.

Sutopo Purwo Nugroho
(Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas)

Berita Lainnya :

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Defisit Air Sejak Tah... JAKARTA - Kekeringan yang melanda masyarakat di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara saat ini, sesungguhnya bukan sesuatu hal yang baru. Hampir setiap tahun b...
Pengurangan Nilai Kerugian Ekonomi Masyarakat di D... DENPASAR – Kepala BNPB Willem Rampangilei menandatangani nota kesepahaman kerjasama antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan Menteri Kopera...
Kongres Nasional Bahasa Isyarat dalam Penanggulang... JAKARTA - Tanggal 23 September 2018 seluruh dunia telah merayakan Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBI) untuk pertama kalinya. HBI telah mengawali P...
Kesiapan Negara-Negara Asean Dalam Mewujudkan Keta... SERANG - ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise (ARDEX) adalah latihan (simulasi) Penanggulangan Bencana di Tingkat Negara-Neg...
Talkshow Menuju Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional