MEDAN – Sosialisasi mengenai pengurangan risiko bencana (PRB) oleh pemerintah kepada masyarakat luas terus dilakukan. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pameran Peringatan Bulan PRB di Lapangan Astaka, Komplek Gedung Dispora Medan, Sumatera Utara, pada 21 – 24 Oktober 2018., terbuka untuk umum dan gratis.

Pameran Pengurangan Risiko Bencana  dibuka dengan diiringi tarian selamat datang Tari Pengalo-galo Mejuah –juah yang dibawakan oleh anak-anak dari lokasi relokasi Siosar yang merupakan hasil kegiatan dari pendampingan Sosial  yang dilakukan oleh Direktorat Pemulihan dan Peningkatan Sosial Ekonomi.
Deputi bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BNPB, Harmensyah yang mewakili Kepala BNPB membuka secara resmi pameran dengan tema SUSTAINABLE RESILIENCE for SUSTAINABLE DEVELOPMENT “Aksi Solidaritas untuk NTB dan Sulteng melalui Kemitraan Pemerintah, Masyarakat, dan Lembaga Usaha”.

BNPB tidak sendiri akan tetapi bergandengan dengan banyak pihak baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, NGO dan Lembaga Usaha. “Hal ini selaras dengan tema kegiatan “Aksi Solidaritas untuk NTB dan Sulteng melalui Kemitraan Pemerintah, Masyarakat, dan Lembaga Usaha. Solidaritas merupakan modal sosial yang berharga untuk membentuk masyarakat tangguh”ucap Harmensyah.

Pameran diikuti 81 peserta dengan total 105 booth dengan rincian peserta Kementrian dan Dinas 11 lembaga, LSM 23 lembaga BPBD Kabupaten/Kota 18 lembaga, BPBD Provinsi 5 lembaga, Dunia Usaha 15 lembaga, Kelompok terdampak bencana (komunitas petani kopi) 5 lembaga, dunia pendidikan 2 lembaga, dan Polri 2 lembaga. Sementara itu, beberapa display yang dipamerkan oleh panitia, seperti tenda posko, rumah sakit lapangan dan peralatan kebencanaan.

Selain pameran kebencanaan, turut pula dipamerkan beberapa alat Peralatan dan Logistik yang digunakan pada saat bencana,seperti mobil dapur umum, perahu karet, alat komunikasi, tenda pengungsi dan lainnya. “Beberapa booth pameran juga diisi oleh petani kopi yang merupakan masyarakat  terdampak bencana erupsi gunung sinabung, selain petani kopi, kelompok binaan dari kegiatan pendampingan ekonomi di siosar dan Lombok juga turut dalam pameran tersebut dengan membawa produk hasil binaan yaitu keripik kentang dan buah-buahan”kata Taufik Kartiko selaku ketua panitia pameran.

Dalam tampilan Ignate State pada pameran ini akan ditampilkan juga tarian Pisau Surit yang juga merupakan hasil dari kegiatan pendampingan sosial. Banyak manfaatnya yang kita dapatkan, bertukar pengalaman dalam penanggulangan bencana dari BPBD seluruh Indonesia. Melalui pameran PRB 2018 ini diharapkan masyarakat dan khususnya BPBD mendapatkan informasi terkait teknologi dan praktek praktis untuk mengetahui risiko bencana di wilayahnya.

Pameran Pengurangan Risiko Bencana akan ditutup pada tanggal 24 Oktober 2018 pukul 17.00 dan akan diberikan hadiah berupa plakat dan uang bagi 3 booth dengan penilaian terbaik

Humas BNPB

Berita Lainnya :

Menyiapkan Peneliti Inovatif bidang Teknik Sipil d... YOGYAKARTA - Program teknik sipil sangat strategis. Presiden Joko Widodo sangat serius dalam pembangunan infrastruktur dasar pembangunan. Jika terpili...
42 Sekolah Sungai untuk Pengurangan Risiko Bencana YOGYAKARTA - Kecenderungan naiknya intensitas kejadian bencana hidrometeorologis dari tahun 2002 – 2015 yang semakin meningkat seiring dengan perubaha...
Pengarustamaan Gender Dalam penanggulangan Bencana Apakah gender itu? Dan mengapa diarusutamakan di bidang penanggulangan bencana? Bagaimana isu tersebut diimplementasikan saat penanggulangan bencana?S...
2.341 Kejadian Bencana, 377 Tewas dan 3,5 Juta Jiw... Tahun 2017 segera berakhir. Bencana selalu menyertai setiap waktu di tahun 2017. Data sementara, tercatat 2.341 kejadian bencana selama tahun 2017. Ri...
Pameran Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2018